Teologi adalah percakapan/komunikasi tentang
Allah. Ada komunikator dan komunikan yang kedua-duanya adalah subjek. Pendeta
dan kaum akademisi yang secara khusus mendalami teologi disebut teolog reguler.
Jemaat atau umat Kristen pada umumnya disebut sebagai teolog Irreguler. Hanya perbedaan waktu belajar dan konten
pelajaran yang membedakan. Selebihnya ialah upaya mengkomunikasikan teologi
mereka masing-masing dengan tingkat yang berbeda-beda. Dari tingkat
interpersonal, kelompok, organisasi hingga massa. Semakin luas skopanya,
semakin rendahlah kualitas komunikasinya.
Dr. Robby I Chandra memberi gambaran
hubungan antara keempat konteks komunikasi dengan segitiga tumpang tindih.
Konteks komunikasi paling awal yakni komunikasi interpersonal akan semakin
sedikit pengaruhnya bahkan hampir tidak ada pada konteks yang lebih luas
seperti konteks massa.
Contoh konkret teori ini dapat ditemukan di
jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Line, Instagram, dll. Tidak peduli
siapa yang akan membaca apa yang ditulis dan apa dampaknya, setiap orang dengan
bebas menuangkan isi hatinya sebagai status. Orang yang membacanya pun memiliki
kebebasan untuk berkomentar dengan kata-kata yang menurutnya indah walau
ternyata nyelekit dihati orang yang membca komentar tersebut. Tahapan
komunikasi yang dimulai dengan basa-basi, tukar informasi, tukar penilaian
hingga tukar perspektif iman pun menurut saya tidak berlaku dalam konteks
komunikasi massa ini. Yang terjadi ialah pertukaran informasi dan atau
penilaian secara tidak langsung. Pertukaran perspektif iman sangat jarang
bahkan hampir tidak ada dijumpai dalam konteks komunikasi massa, kecuali bila
kegiatan yang bersangkutan memang bertujuan melakukan hal tersebut.
Apa
yang menjadi alasan saya memberi judul “Berteologi = Berkomunikasi”? Secara teologis dasarnya ialah Allah yang
senantiasa mengkomunikasikan diri-Nya. Robby Chandra mengulas topik ini dalam
upaya mengembangkan teologi relasi sebagai dasar komunikasi. Allah pencipta
menciptakan segala sesuatu dan menilainya baik sesuai rencana-Nya. Ketika dosa
muncul dan merusak relasi antara Dia dan ciptaan-Nya, Allah tetap bersedia
menjalin hubungan yang harmonis dengan ciptaan-Nya. Upaya rekonsiliasi atas inisiatif
Allah dilaksanakan melalui pribadi Yesus Kristus. Dengan demikian, menurut saya
hakikat teologi ialah memperlajari relasi Allah dengan umat-Nya dan
mengkomunikasikan penemuan tersebut kepada orang lain. Banyak cara yang dapat
dipakai, seperti metafor, narasi, dll. Akhirnya, saya menyimpulkan bahwa
berteologi baik secara reguler maupun irreguler sama dengan berkomunikasi.