Jumat, 05 Desember 2014



Teologi adalah percakapan/komunikasi tentang Allah. Ada komunikator dan komunikan yang kedua-duanya adalah subjek. Pendeta dan kaum akademisi yang secara khusus mendalami teologi disebut teolog reguler. Jemaat atau umat Kristen pada umumnya disebut sebagai teolog Irreguler.  Hanya perbedaan waktu belajar dan konten pelajaran yang membedakan. Selebihnya ialah upaya mengkomunikasikan teologi mereka masing-masing dengan tingkat yang berbeda-beda. Dari tingkat interpersonal, kelompok, organisasi hingga massa. Semakin luas skopanya, semakin rendahlah kualitas komunikasinya.
Dr. Robby I Chandra memberi gambaran hubungan antara keempat konteks komunikasi dengan segitiga tumpang tindih. Konteks komunikasi paling awal yakni komunikasi interpersonal akan semakin sedikit pengaruhnya bahkan hampir tidak ada pada konteks yang lebih luas seperti konteks massa.



Contoh konkret teori ini dapat ditemukan di jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Line, Instagram, dll. Tidak peduli siapa yang akan membaca apa yang ditulis dan apa dampaknya, setiap orang dengan bebas menuangkan isi hatinya sebagai status. Orang yang membacanya pun memiliki kebebasan untuk berkomentar dengan kata-kata yang menurutnya indah walau ternyata nyelekit dihati orang yang membca komentar tersebut. Tahapan komunikasi yang dimulai dengan basa-basi, tukar informasi, tukar penilaian hingga tukar perspektif iman pun menurut saya tidak berlaku dalam konteks komunikasi massa ini. Yang terjadi ialah pertukaran informasi dan atau penilaian secara tidak langsung. Pertukaran perspektif iman sangat jarang bahkan hampir tidak ada dijumpai dalam konteks komunikasi massa, kecuali bila kegiatan yang bersangkutan memang bertujuan melakukan hal tersebut.
Apa yang menjadi alasan saya memberi judul “Berteologi = Berkomunikasi”?  Secara teologis dasarnya ialah Allah yang senantiasa mengkomunikasikan diri-Nya. Robby Chandra mengulas topik ini dalam upaya mengembangkan teologi relasi sebagai dasar komunikasi. Allah pencipta menciptakan segala sesuatu dan menilainya baik sesuai rencana-Nya. Ketika dosa muncul dan merusak relasi antara Dia dan ciptaan-Nya, Allah tetap bersedia menjalin hubungan yang harmonis dengan ciptaan-Nya. Upaya rekonsiliasi atas inisiatif Allah dilaksanakan melalui pribadi Yesus Kristus. Dengan demikian, menurut saya hakikat teologi ialah memperlajari relasi Allah dengan umat-Nya dan mengkomunikasikan penemuan tersebut kepada orang lain. Banyak cara yang dapat dipakai, seperti metafor, narasi, dll. Akhirnya, saya menyimpulkan bahwa berteologi baik secara reguler maupun irreguler sama dengan berkomunikasi.